Selasa, 04 Agustus 2009

RESESI PICU AKSI PROTEKSI

JAKARTA-Resesi global telah memicu sebagian besar negara untuk melakukan proteksi terhadap industri dalam negeri mereka.Hal itu dibuktikan dengan naiknya jumlah tuduhan dumping dan safeguard yang dialamatkan kenegara lain hingga mencapai 28 persen.

"Penerapan instrumen anti dumping dan safeguard di seluruh dunia meningkat 28 persen pada 2008,atau sejak krisis global melanda"ujar menteri perdagangan Mari Elka Pangestu kemarin. Menurut dia,krisis global telah membuat masing-masing negara menerapkan instrumen pengamanan perdagangan yang lebih kuat di negaranya, terutama negara-negara maju seperti amerika serikat.

Itu mengacu laporan hasil monitoring tiga bulanan yang dilakukan Organisasi Perdagangan Dunia(World Trade Organization\WTO). Setiap negara saat ini cenderung menerapkan kebijakan yang dapat dianggap mempunyai dampak terhadap perdagangan,walau tetap konsisten dengan aturan main WTO . "Belum sampai melanggar aturan WTO,"tegasnya.

Penerapan kebijakan subsidi juga digunakan dalam berbagai bentuk seperti paket stimulus. Dengan itu diharapkan industri dalam negerinya tetap bertahan ditengah ketatnya persaingan global."Instrumen anti dumping,safeguard dan subsidi memang sesuai dengan ketentuan WTO,namun dalam prakteknya semakin banyak oleh ekonomi maju yang menghambat kegiatan ekspor dari negra berkembang,"ungkapnya.

Mari menuturkan, beberapa instrumen yang dilakukan negara -negara maju,walau terkesan tidak memberi dampak pada perdagangan,tapi dianggap menguntungkan satu sektor. Dengan pemberian stimulus fiksal, misalnya,itu akan mempengaruhi daya saing industri tersebut. "Bisa juga dalam instrumen penciptaan permintaan dalam negeri,tapi dalam satu sisi,bisa juga tidak menguntukan impor,"terangnya.

Negara berkembang seperti indonesia, kata dia, dalam pembahasan isu proteksionisme meminta agar subsidi yang dilakukan negara maju bisa tekan. Hal itu akan terus diupayakan dalam setiap pembicaraan bilateral atau multilateral."Harus dibedakan antara negara maju dan berkembang. Negara berkembang tidak punya dana untuk subsidi, maka untuk sementara harus menggunakan instrumen perdagangan seperti anti dumping dan safe guard. Yang penting tetap konstiten dengan WTO,"tuturnya.

Mari mencotohkan,kebijakan subsidi produk dari (susu dan daging) yang diberikan pemerintah Uni Eropa telah diprotes AS. Hal itu ditanggapi AS dengan memberikan reaksi balik yaitu menerapkan subsidi pada produk manufakturnya. "Untung,ahkirnya dan tidak jadi. Bahkan AS pun dengan program Buy American pun mundur sesuai dengan aturan WTO tentang pengadaan pemerintah,"jelasnya. (wir\bas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar